Sebanyak 50 becak montor (bentor) yang selama ini beroperasi di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dimusnahkan sebagai bagian dari penataan transportasi di kawasan wisata tersebut. Sebagai pengganti, para penarik becak menerima becak listrik yang dinilai lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan konsep penataan Malioboro.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menciptakan kawasan wisata yang lebih tertata, nyaman, dan mendukung penggunaan transportasi yang lebih modern.
Bentor Digantikan Becak Listrik
Pemusnahan puluhan bentor menandai berakhirnya penggunaan moda transportasi tersebut di kawasan Malioboro. Selama ini, bentor menjadi salah satu sarana transportasi yang cukup dikenal oleh wisatawan maupun masyarakat setempat.
Sebagai gantinya, para pengemudi mendapatkan becak listrik yang diharapkan dapat memberikan kenyamanan lebih baik bagi penumpang sekaligus mendukung pengurangan emisi kendaraan di kawasan wisata.
Bagian dari Penataan Kawasan Malioboro
Perubahan moda transportasi ini merupakan bagian dari program penataan kawasan Malioboro yang terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan tersebut diarahkan menjadi destinasi wisata yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan wisatawan.
Penggunaan becak listrik juga dinilai selaras dengan upaya modernisasi transportasi tanpa menghilangkan identitas becak sebagai salah satu ikon wisata Yogyakarta.
Diharapkan Tingkatkan Kenyamanan Wisatawan
Kehadiran becak listrik diharapkan mampu memberikan pengalaman baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Malioboro. Selain lebih ramah lingkungan, kendaraan ini juga menawarkan operasional yang lebih senyap dibandingkan bentor.
Dengan kondisi kawasan yang semakin tertata, pemerintah berharap daya tarik Malioboro sebagai destinasi wisata unggulan dapat terus meningkat.
Transisi bagi Para Pengemudi
Bagi para pengemudi, pergantian dari bentor ke becak listrik menjadi fase transisi yang cukup penting. Mereka diharapkan dapat beradaptasi dengan sistem operasional kendaraan baru yang telah disiapkan.
Program ini juga bertujuan menjaga keberlangsungan mata pencaharian para pengemudi sekaligus mendukung transformasi transportasi yang lebih berkelanjutan di kawasan Malioboro.
