Kesenian tradisional dari Borobudur akan mendapat ruang dalam Festival Bhumi Atsanti V melalui kehadiran kelompok Jathilan yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Kehadiran kelompok seni tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam festival yang mempertemukan berbagai bentuk ekspresi budaya.
Jathilan bukan hanya pertunjukan seni yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaannya juga menunjukkan bagaimana sebuah kesenian dapat terus bertahan ketika masyarakat di sekitarnya tetap merawat, memainkan, dan mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya.
Jathilan Bertahan Melintasi Generasi
Usia kelompok Jathilan yang mencapai lebih dari satu abad memperlihatkan panjangnya perjalanan kesenian rakyat di Borobudur. Dalam rentang waktu tersebut, tradisi mengalami berbagai perubahan zaman, tetapi keberadaannya tetap dipertahankan oleh masyarakat.
Keberlangsungan tersebut tidak hanya bergantung pada pertunjukan di atas panggung. Regenerasi pelaku seni, keterlibatan masyarakat, serta kemauan untuk mengenalkan kesenian kepada generasi muda menjadi bagian penting agar tradisi tidak berhenti pada satu generasi.
Hadir sebagai Peserta Lokal
Kehadiran Jathilan Borobudur dalam Festival Bhumi Atsanti V memberikan ruang bagi kesenian lokal untuk tampil di tengah perayaan budaya yang lebih luas. Kelompok tersebut membawa identitas daerah sekaligus memperlihatkan kekayaan seni yang tumbuh dari kehidupan masyarakat.
Peserta lokal seperti Jathilan juga memiliki peran dalam memperkenalkan karakter budaya Borobudur kepada pengunjung. Pertunjukan menjadi sarana untuk melihat bahwa tradisi tidak selalu tersimpan di ruang sejarah, tetapi masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Seni Rakyat yang Tetap Dihidupi
Salah satu hal penting dari keberadaan Jathilan adalah hubungan erat antara seni dan masyarakat pendukungnya. Sebuah kesenian dapat bertahan bukan semata karena memiliki sejarah panjang, melainkan karena masih dianggap memiliki nilai dan makna oleh komunitasnya.
Kehadiran kelompok Jathilan dalam festival menjadi gambaran mengenai proses tersebut. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berperan sebagai pelaku yang menjaga keberadaan kesenian agar tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Festival Menjadi Ruang Regenerasi
Festival Bhumi Atsanti V dapat menjadi ruang pertemuan antara kesenian tradisional dan publik yang lebih luas. Penampilan Jathilan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk kembali melihat bentuk seni yang telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Borobudur.
Dengan menghadirkan kesenian lokal berusia lebih dari satu abad, festival sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan melalui keterlibatan langsung masyarakat. Tradisi akan terus memiliki kehidupan selama masih dipelajari, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
