Sebanyak 120 mahasiswa ALSA Universitas Indonesia dan Universitas Diponegoro mengikuti kegiatan belajar budaya di Kota Lama Semarang. Mereka mendapat pengalaman membuat Wayang Suket, karya seni tradisional yang memanfaatkan rumput alang-alang sebagai bahan utama.
Kegiatan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya diajak membuat kerajinan dari bahan sederhana, tetapi juga mengenal nilai budaya yang terkandung di balik Wayang Suket, termasuk pesan mengenai persatuan dan keberagaman Indonesia.
Wayang Suket Jadi Media Belajar Budaya
Wayang Suket merupakan bentuk kesenian yang memanfaatkan rumput sebagai bahan untuk membentuk figur wayang. Bahan yang sederhana tersebut kemudian dirangkai dan dianyam hingga menghasilkan bentuk yang memiliki karakter tersendiri.
Bagi mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut, proses pembuatan menjadi kesempatan untuk mengenal seni tradisional secara langsung. Mereka dapat memahami bahwa budaya Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk benda dengan bahan yang mahal, tetapi juga dapat lahir dari lingkungan sekitar.
Mahasiswa Belajar dari Rumput Alang-alang
Rumput alang-alang yang selama ini lebih sering dianggap sebagai tanaman liar dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari karya seni. Dalam proses pembuatan Wayang Suket, peserta perlu memperhatikan cara memilih, mengolah, dan merangkai rumput agar dapat membentuk figur yang diinginkan.
Pengalaman tersebut memberikan sisi edukatif sekaligus kreatif. Mahasiswa tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi ikut merasakan proses membuat karya dengan tangan mereka sendiri.
Filosofi Persatuan Indonesia Ikut Dikenalkan
Di balik bentuk Wayang Suket terdapat nilai budaya yang dapat dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya menjadi pengingat mengenai hubungan manusia dengan lingkungan serta keberadaan seni rakyat dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan mengenai persatuan juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Mahasiswa diajak melihat keberagaman budaya sebagai kekayaan yang dapat memperkuat identitas Indonesia, bukan menjadi pembeda yang memisahkan masyarakat.
Kota Lama Jadi Ruang Pertemuan Budaya
Kota Lama Semarang memberikan latar yang menarik untuk kegiatan pengenalan budaya. Kawasan bersejarah tersebut mempertemukan suasana heritage dengan aktivitas generasi muda yang sedang mempelajari seni tradisional.
Kegiatan membuat Wayang Suket akhirnya tidak hanya menjadi aktivitas kreatif. Bagi 120 mahasiswa ALSA UI dan Undip, pengalaman tersebut menjadi cara untuk lebih dekat dengan budaya lokal sekaligus memahami nilai persatuan Indonesia melalui karya sederhana yang berasal dari rumput alang-alang.
