Kesenian Wayang Potehi di Semarang dinilai semakin terpinggirkan. Kondisi ini menjadi perhatian budayawan Tionghoa, Jongkie Tio.
Menurutnya, kesenian tradisional yang telah lama berkembang tersebut kini kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Padahal, Wayang Potehi memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
Pasang Surut Wayang Potehi di Semarang
Perkembangan Wayang Potehi di Semarang disebut mengalami pasang surut. Pada masa tertentu, kesenian ini sempat berkembang dan menarik minat masyarakat.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, eksistensinya dinilai mulai menurun. Minimnya pementasan menjadi salah satu indikator berkurangnya perhatian terhadap kesenian ini.
Minim Dukungan dan Perhatian
Jongkie Tio menilai kurangnya dukungan menjadi faktor utama. Baik dari masyarakat maupun pemangku kepentingan, perhatian terhadap Wayang Potehi dinilai belum optimal.
Selain itu, regenerasi pelaku seni juga menjadi tantangan. Tanpa adanya generasi penerus, keberlangsungan kesenian ini dikhawatirkan semakin terancam.
Harapan untuk Pelestarian Budaya
Meski menghadapi berbagai tantangan, harapan untuk melestarikan Wayang Potehi tetap ada. Diperlukan langkah konkret untuk menghidupkan kembali kesenian ini.
Kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat dinilai penting. Dengan dukungan yang kuat, Wayang Potehi di Semarang diharapkan dapat kembali berkembang dan dikenal luas oleh generasi muda.
