
Muhammad menjadi teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam memaknai Idulfitri. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai momen kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga sebagai ajang memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan persatuan umat.
Dalam praktiknya, Idulfitri pada masa Rasulullah sarat dengan nilai sosial yang kuat. Beliau mendorong umat untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta menunjukkan solidaritas kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Nilai-nilai ini menjadi bagian penting dari “jejak politik” Rasulullah yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Selain aspek sosial, shalat Idulfitri juga menjadi bagian penting dalam perayaan. Umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat Id secara berjamaah di lapangan atau masjid, sebagai simbol kebersamaan dan persatuan. Shalat ini dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit dan sebelum waktu dzuhur.
Tata cara shalat Idulfitri dimulai dengan niat, diikuti dengan takbiratul ihram, kemudian takbir tambahan (takbir zawaid) sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah, surat pendek, ruku, sujud, hingga salam seperti shalat pada umumnya.
Khutbah Idulfitri juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan setelah shalat. Dalam khutbah tersebut, disampaikan pesan-pesan moral, ajakan untuk meningkatkan ketakwaan, serta penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat. Hal ini mencerminkan fungsi dakwah sekaligus penguatan komunitas umat.
Keutamaan shalat Idulfitri terletak pada kebersamaan dan kesempatan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah Ramadan. Momen ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menjaga nilai kebaikan, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
