Festival budaya yang dikelola secara swadaya kembali menorehkan pencapaian istimewa dengan memasuki usia ke-25 tahun. Selama seperempat abad, festival ini terus berlangsung tanpa pernah terhenti, bahkan ketika pandemi melanda. Konsistensi tersebut menjadikannya salah satu agenda budaya yang mampu bertahan berkat partisipasi dan dukungan masyarakat.
Perayaan tahun ini mengusung tema satir “Makin Goblok Bareng”, sebuah gagasan yang diciptakan oleh Budayawan Sutanto Mendut. Tema tersebut dipilih sebagai ruang refleksi sekaligus kritik sosial yang dikemas melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya.
Bertahan Tanpa Sponsor Selama Seperempat Abad
Salah satu keunikan festival ini adalah penyelenggaraannya yang sepenuhnya mengandalkan semangat swadaya masyarakat. Selama 25 tahun, kegiatan tersebut tidak bergantung pada sponsor korporasi maupun dukungan pendanaan dari pemerintah.
Kemandirian itu menunjukkan kuatnya solidaritas komunitas seni dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan festival. Partisipasi sukarela dari berbagai pihak menjadi fondasi utama yang membuat acara tetap hidup dari tahun ke tahun.
Tema Satir Sarat Makna
Tema “Makin Goblok Bareng” menjadi identitas perayaan tahun ini. Melalui pendekatan satir, festival mengajak masyarakat melihat berbagai persoalan sosial dengan cara yang reflektif, kritis, sekaligus tetap mengedepankan nilai-nilai kebudayaan.
Gagasan yang lahir dari Budayawan Sutanto Mendut tersebut diharapkan mampu membuka ruang dialog serta mendorong publik untuk lebih peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar mereka.
Budaya Hidup Berkat Partisipasi Masyarakat
Perjalanan festival selama 25 tahun menjadi bukti bahwa kegiatan budaya dapat berkembang melalui gotong royong dan keterlibatan masyarakat. Semangat kebersamaan yang terus dijaga menjadikan festival ini tidak hanya sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga ruang mempererat hubungan antarkomunitas.
Memasuki usia perak, penyelenggara berharap festival tetap menjadi wadah ekspresi budaya, kreativitas, dan kritik sosial yang konstruktif. Dengan dukungan masyarakat yang terus mengalir, festival ini diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya serta menginspirasi lahirnya berbagai gerakan budaya mandiri di masa mendatang.
