Kesenian Ebeg masih menjadi primadona di hampir seluruh desa di Purbalingga. Denting gamelan, gerakan penari, serta antusiasme penonton terus mewarnai setiap pertunjukan yang digelar.
Ebeg yang juga dikenal sebagai kuda lumping tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat. Kesenian ini telah menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Seiring waktu, ebeg mulai menunjukkan potensi sebagai penggerak ekonomi. Para pelaku seni, mulai dari penari hingga pengrawit, mendapatkan penghasilan dari setiap pementasan yang digelar.
Tidak hanya itu, kegiatan pertunjukan juga mendorong perputaran ekonomi di sekitar lokasi acara. Pedagang makanan, penyedia perlengkapan, hingga jasa pendukung lainnya turut merasakan dampak positif.
Pemerintah daerah melihat potensi ini sebagai peluang untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Dukungan terhadap pelestarian kesenian ebeg diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan terus berkembangnya minat masyarakat, ebeg tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya. Kesenian ini kini menjelma menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi para pelakunya di Purbalingga.
